Bimakuru.com – Semakin berkembangnya teknologi internet dan juga makin banyak penggunanya (netizen) – baik pengakses konten maupun pembuat konten online – kegiatan jurnalistik semakin banyak dilakukan oleh perseorangan, komunitas maupun secara lembaga.

Dalam bukunya yang berjudul Jurnalistik Online : Panduan Praktis Mengelola Media Online (2015), Asep Syamsul M. Romli memberi salah satu sub-judul Jurnalistik Masa Depan. Ini kaitannya dengan keunggulan Jurnalistik Online yang dapat dibalut dengan berbagai macam multimedia, dimandingkan dengan jurnalistik konvensional terdahulu.

Jurnalistik Online

Jurnalistik online (online journalism) disebut juga cyber journalism, jurnalistik internet, dan jurnalistik web (web journalism) merupakan “generasi baru” jurnalistik setelah jurnalistik konvensional (jurnalistik media cetak, seperti surat kabar) dan jurnalistik penyiaran (broadcast journalism: radio, televisi).

Pengertian jurnalistik online terkait banyak istilah, yakni jurnalistik, online, internet, dan website.
Jurnalistik dipahami sebagai proses peliputan, penulisan, dan penyebarluasan informasi (aktual) atau berita melalui media massa. Secara ringkas dan praktis, jurnalistik bisa diartikan sebagai “memberitakan sebuah peristiwa”.

Online dipahami sebagai keadaan konektivitas (ketersambungan) mengacu kepada internet atau world wide web (www). Online merupakan bahasa internet yang berarti “informasi dapat diakses di mana saja dan kapan saja” selama ada jaringan internet (konektivitas).

Internet (kependekan dari interconnection-networking) secara harfiyah artinya “jaringan antarkoneksi”. Internet dipahami sebagai sistem jaringan komputer yang saling terhubung. Berkat jaringan itulah yang ada di sebuah komputer dapat diakses orang lain melalui komputer lainnya. Internet “menghasilkan” sebuah media –dikenal dengan “media online”—utamanya website.

Website atau site (situs) adalah halaman mengandung konten (media), termasuk teks, video, audio, dan gambar. Website bisa diakses melalui internet dan memiliki alamat internet yang dikenal dengan URL (Uniform Resource Locator) yang berawalan www atau http:// (Hypertext Transfer Protocol).

Dari pengertian ketiga kata tersebut, jurnalistik online dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian informasi melalui media internet, utamanya website.

Kamus bebas Wikipedia mendefinisikan jurnalisme online sebagai ”pelaporan fakta yang diproduksi dan disebarkan melalui internet” (reporting of facts produced and distributed via the Internet).

Karena merupakan perkembangan baru dalam dunia media, website pun dikenal juga dengan sebutan “media baru” (new media) vis a vis media konvensional –koran, majalah, radio, dan televisi.

Hal baru dalam “new media” antara lain informasi yang tersaji bisa diakses atau dibaca kapan saja dan di mana pun, di seluruh dunia, selama ada komputer dan perangkat lain yang memiliki koneksi internet.

Prinsip Jurnalistik Online

Paul Bradshaw dalam “Basic Principal of Online Journalism” (onlinejournalismblog.com) menyebutkan, ada lima prinsip dasar jurnalistik online yang disingkat B-A-S-I-C, yaitu Brevity, Adaptability, Scannability, Interactivity, Community-Conversation.

  • Brevity (Keringkasan) : berita online dituntut untuk bersifat ringkas, untuk menyesuaikan dengan kehidupan manusia dan tingkat kesibukannya yang makin tinggi. Pembaca memiliki sedikit waktu untuk membaca dan ingin segera tahu informasi. Maka, jurnalisme online sebaiknya berisi tulisan ringkas saja. Hal ini juga disesuaikan dengan salah satu kaidah bahasa jurnalistik KISS, yaitu Keep It Short and Simple. Buatlah naskah yang ringkas dan sederhana.
  • Adaptability (Kemampuan Beradaptasi) : wartawan online dituntut agar mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik. Dengan adanya kamajuan teknologi, jurnalis dapat menyajikan berita dengan cara membuat berbagai keragaman cara, seperti dengan penyediaan format suara (audio), video gambar, dan lain-lain dalam suatu berita.
  • Scannabiliy (Dapat dipindai) : Untuk memudahkan oara audiens, situs-situs terkait dengan jurnalistik online hendaknya memiliki sifat dapat dipindai, agar pembaca tidak perlu merasa terpaksa dalam membaca informasi atau berita.
  • Interactivity (Interaksi) : komunikasi dari publik kepada jurnalis dalam jurnalisme online sangat dimungkinkan dengan adanya akses yang semakin luas. Pembaca atau viewer dibiarkan untuk menjadi pengguna (user). Hal ini sangat penting karena semakin audiense ersa dilibatkan, maka mereka akan semakin dihargai dan senang membaca berita yang ada.
  • Community-Conversation (Komunitas-Percakapan) : media online memiliki peran yang lebih besar dari pada media cetak atau media konvensional linya, yakni sebagai penjaring komunitas. Jurnalis online juga harus memberi jawaban atau timbal balik kepada publik sebagai sebuah balasan atas interaksi yang dilakukan publik tadi.

Karakteristik Jurnalistik Online

Letak perbdaan utama jurnalistik online dengan jurnalistik konvensional (cetak, radio, tv) adalah kecepatan, kemudahan akses, dapat diperbaharui (update) dan dihapus kapan saja, serta dapat terjalin interaksi dengan pengguna atau pembacanya.

Jurnalistik Online juga “tidak mengenal” tenggat waktu (deadline) sebagaimana dikenal di media cetak Deadline (tenggat waktu) bagi Jurnalistik Online dalam ini pengertian “publikasi paling lambat” adalah “beberapa menit bahkan detik setelah sebuah kejadia berlangsung.

Jurnalistik Online dicirikan sebagai praktik jurnalistik yang mempertimbangkan beragam format media (multi-media) untuk menyusun isi artikel liputan yang memungkinkan terjadinya interaksi antara jurnalis dan audiens dan menghubungkan berbagai eleen berita dengan sumber-sumber online lainnya.

Kemampuan interaktivitas jurnalistik online dianggap mampu meruntuhkan aturan lama tradisi jurnalistik, bahwa kebenaran faktual terletak pada praktik jurnalistik karena hanya wartawan yang taun dan memutuskan informasi seperti apa yang dibutuhkan oleh khalayak. Kebenaran faktual, obektivitas, dan imparsialitas tidak lagi dibangun pada ruang senyap editor, namun dipertukarkan antara jurnalis dan publik.

Mike Ward dalam Journalism Online (Focal Press, 2002) menyebutkan beberapa karakteristik jurnalistik online sekaligus yang membedakannya (keunggulan) dengan media konvensional, yaitu:

  • Immediacy
  • Multiple Pagination
  • Multimedia
  • Flexibility Delivery Platform
  • Archieving
  • Relationship with reader

Karakteristik yang serupa juga di kemukakan oleh James C. Foust ketika mengemukakan keunggulan jurnalistik online dalam Online Journalism: Pinciples and Practices of News for The Web (2005):

  • Audience Control : pembaca dengan laluasa dapat memilih berita yang disukai hanya dengan neggerakkan jari, tetikus (mouse) atau kursor dan mengklik tautan artikel yang dikehendaki.
  • Nonlienarity : setiap berita dapat berdisi sendiri atau tidak berurutan.
  • Storage and Retrival : berita atau informasi tersimpan atau terarsipkan dan dapat diakses kembali dengan mudah kapan saja.
  • Unlimited Space : memungkinkan jumlah berita jauh lebih banyak dan lengkap daripada jenis media lain. Berbeda dengan berita radio dan televise yang dibatasi dengan durasi (air time) dan Koran yang dibatasi dengan jumlah kolom dan halaman.
  • Immediacy : kesegaran, cepat dan langsung.
  • Multimedia Capability : dapat meliputi teks, suara, gambar, video dan komponen media lainnya di dalam suatu berita.
  • Interactivity : memungkinkan adanya peningkatan partisipasi pembaca seperti penyediaan kolom komentar dan fasilitas berbagi (share) ke jaringan media social – umumnya facebook, twitter dan whatsapp

Karakter jurnalistik online juga tergambar dalam elemen jurnalistik online yang disebutkan oleh Rey G. Rosales dalam The Elements of Online Journalism (iUniverse, 2006). Jurnalisme Online memiliki elemen multimedia dalam pemberitaannya, meliputi dasar (basic) dan advance.

Elemen dasar dari pemberitan Jurnalisme Online mencakup :

  • Judul (headline) : dihalaman muka umumnya berupa tautan, jika diklik akan memuka halaman baru tersendiri yang berisi berita lebih lengkap.
  • Isi (teks) : tubuh tulisan dalam satu halaman utuh atau terpisah kedalam beberapa tautan halaman lainnya.
  • Gambar atau foto : digunakan untuk menyertai atau memperkuat isi berita.
  • Grafis, ilustrasi, logo : grafis, ilustrasi, logo yang terkait dengan isi berita.
  • Tautan (link) terkait : tautan ke artikel lain untuk semakin memperkuat informasi dan penambahan wawasan bagi pembaca, biasanya terletak di akhir tulisan atau disamping.

Elemen Advance mencakup elemen dasar yang ditambahi dengan :

  • Audio : suara, music atau rekaman suara yang berdiri sendiri atau digabungkan dengan slideshow atau video.
  • Video : video yang terkait dengan artikel
  • Slideshow : koleksi foto yang lebih mirip galeri gambar yang biasanya disertai dengan keterangan foto. Beberapa slideshow juga disertai suara (audio).
  • Animasi : animasi atau gambar bergerak yang diproduksi untuk menambah dampak dari tulisan/informasi
  • Interactive feature (timeline, map) : grafis yang didesain untuk berinteraksi dengan pembaca, termasuk peta/denah lokasi (map, google map).
  • Interactive game : biasanya didesain seperti mini-video games yang bisa dimainkan oleh pengguna/pembaca (play to news).

Karakter sekaligus keunggulan Jurnalisme Online yang tidak dimiliki oleh media konvensional dengan baik dipaparkan oleh Richard Craig dalam bukunya Online Journalism : Reporting, Writing, and Editing for New Media (2005), yaitu :

  • Pembaca dapat menggunakan link (tautan) untuk menawarkan pengguna dalam membaca lebih lanjut pada setiap berita.
  • Pembaca dapat memperbaharui berita secara langsung dan teratur.
  • Informasi di online sangatlah luas.
  • Tersedianya penambahan suara, video dan konten online yang tidak dimiliki oleh media cetak.
  • Dapat menyimpan arsip online dari zaman ke zaman.

Jurnalistik Masa Depan

Sifat multimedia pada jurnalisitk online menjadikannya sebagai jurnalistik masa depan : wartawan tidak hanya menyusun teks berita dan menampilkan foto, tapi juga melengkapinya dengan suara dan gambar (audio-video).

Dengan jurnalistik online pula, kini tidak ada lagi istilah “berita tidak dapat dipublikasikan” alias hanya menjadi arsip tulisan di komputernya, karena jika media tempatnya bekerja menolak memuat beritanya, maka secara mandiri dapat memuatnya di blog atau situs jejaring social milik pribadi atau komunitas.

Selain itu, kini public tidak lagi semata tergantung pada media-meia konvensional untuk mengikuti perkembangan dunia. Berbgai data menunjukkan, pengguna internet dari waktu ke waktu terus bertambah. Publik kini menjadikan media online sebagai rujukan utama ketika mereka membutuhkan informasi apapun.

“Budaya Internet” kian kuat dikalangan masyarakat berkat kehadiran laman situs-situs “mesin pencari” (search engine), seperti Google, Yahoo, Bing, Ask, dll. Dengan hanya mengetikan kata kunci tertentu di laman situs mesin pencari tersebut, penggua di seluruh dunia dapat mempunyai akses akan bermacam-macam informasi terkait kata kunci tersebut.

Dalam catatan Wikipedia, perkembangan internet juga telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Berbagai transaksi jual-beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka – dan sebagian sangat kecil melalui pos dan telepon – kini sangat mudah dan sering dilakukan melalui internet. Transaksi melalui internet ini dikenal dengan nama e-commerce dan took/bisnis online (online store) pun sekamin bermunculan.

Kilas Balik Jurnalistik Online

Berbagai literature jurnalistik online menunjukan, jenis jurnalisme baru ini tidak lepas dari ditemukannya teknologi computer yang diikuti kemunculan teknologi internet yang dikembangkan pada tahun 1990-an. Penemuan dan pengembangan teknologi nirkabel (wireless) ada notebook memudahkan proses jurnalistik atau kerja wartawan.

Tonggak sejarah kelahiran jurnalistik online dapat dikatakan sejak tanggal 17 Januari 1998, kala itu ketika Mark Druge yang berbekal sebuah laptop dan modem mempublikasikan kisah skandal perselingkuhan Presiden Amerika Serikat, kala itu Bill Clinton, dengan Monica Lewinsky yang kemudian terkenal dengan nama skandal Monicagate. Berita itu dipublikasikan di laman website Drudge Report, setelah kabarnya majalah Newsweek menolak untuk memuat kisah skandal pejabat Negara hasil investigasi Michael Isikoff tersebut. Semua netizen yang mengakses laman tersebut segera mengetahui rincian cerita dari skandal Monicagate itu, yang juga dikenal dengan sebutan lain Monica Scandal dan Sexgate.

Dua tahun kemudian atau awal tahun 2000-an, muncullah situs-situs pribadi yang menampilkan laporan jurnalistik pemiliknya yang kini dikenal dengan website blog, weblog atau blog saja.

Kemunculan dan perkembangan jurnalistik online di Indonesia juga dimulai dengan berita menggegerkan, yaitu berakhirnya pemerintahan Orde Baru saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Berita pengunduran diri Soeharto tersebut tersebar luas melalui milist (mailing list) yang sudah mulai dikenal luas di kalangan aktivis demokrasi dan mahasiswa kala itu.

Setelah itu, seiring dengan euphoria reformasi, beragam media online pun hadir, seperti detik.com, bidik.com, mandiri-online.com serta berpolitik.com yang disebut-sebut sebagai pioneer jurnalistik online di Indonesia. Diikuti pula dengan hadirnya tiga laman situs besar kala itu Astaga.com, Satunet.com dan KafeGaul.com.

Saat ini sejarah jurnalistik online didominasi oleh situs-situs berita yang merupakan edisi online surat kabar, meski belakangan kemudian kontennya menjadi tersendiri dan berbeda dengan edisi cetak.

Herawati Ansara menulis di Kompasiana bawah Majalah Mingguan Tempo pada 6 Maret 1996 mengawali kemunculan media online di Indonesia. Alasan pendirian Tempo pada waktu itu adalah semata-mata agar media itu tidak mati karena media cetak Tempo pada saat itu sedang dibredeli. Dalam segi bisnis, Detik.com adalah salah satu pemain lama media online di Indonesia. Server detikcom sebenarnya sudah siap diakses pada 30 Mei 1998, namun baru mulai online dengan sajian lengkap pada 9 Juli 1998.

Sumber Referensi :

  • Jurnalistik Online : Panduan Praktis Mengelola Media Online, Asep Syamsul M. Romli, 2015.
  • Sejarah Media online di Dunia dan di Indonesia, Kompasiana, Herawati Ansara, 2015.

Comments

comments