
Apakah Harus Percaya Tuhan untuk Menjadi Bermoral?
Perdebatan mengenai asal-usul nilai kebaikan dalam diri manusia selalu menarik untuk dibahas. Banyak orang beranggapan bahwa iman adalah fondasi utama dari perilaku yang etis, sementara yang lain merasa prinsip etika bersifat universal dan bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang spiritualnya. Menariknya, survei global terbaru menunjukkan adanya pergeseran pandangan dunia yang cukup signifikan mengenai apakah seseorang wajib percaya Tuhan untuk menjadi bermoral dan mempertahankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bersosial.
Mengutip dari artikel Pew Research Center yang berjudul “In the U.S. and other countries, fewer people now say it’s necessary to believe in God to be moral“, studi berskala besar yang dirilis pada Maret 2026 ini melibatkan lebih dari 28.000 responden di 25 negara. Hasil analisisnya mengungkap jurang perbedaan yang sangat lebar antara sudut pandang masyarakat di negara barat yang kian sekuler dengan masyarakat di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tren Penurunan di Barat: Moralitas Mulai Dipisahkan dari Agama
Dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat di negara-negara maju semakin cenderung memisahkan antara konsep kebajikan dengan keyakinan teologis (ketuhanan). Tren ini terlihat sangat mencolok di Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa Barat.
- Fenomena di Amerika Serikat: Sejak tahun 2002 hingga 2011, opini publik di AS sebenarnya masih terbelah seimbang antara yang mengaitkan moralitas dengan agama dan yang tidak. Namun, mulai tahun 2014, grafiknya berbalik arah. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 68% warga AS kini menyatakan bahwa keyakinan keagamaan tidak lagi menjadi prasyarat untuk menjadi orang baik.
- Sekularisme Etis di Eropa: Angka yang lebih tinggi ditemukan di Eropa. Di Swedia, bahkan 89% penduduknya setuju bahwa moralitas bisa berdiri sendiri tanpa intervensi dogma agama. Langkah pandangan ini juga diikuti secara dominan oleh warga Spanyol (84%), Prancis (83%), dan Belanda (81%).
Indonesia dan Negara Berkembang: Iman Tetap Jadi Jangkar Etika
Sebaliknya, situasi yang berbanding terbalik terjadi di belahan bumi lain. Bagi masyarakat di negara berkembang atau wilayah dengan tingkat religiusitas yang kental, moralitas dan ketuhanan adalah dua hal mutlak yang tidak bisa dipisahkan.
Indonesia menjadi negara yang paling kokoh di dunia dalam mempertahankan prinsip ini. Sebanyak 99% responden di Indonesia menegaskan bahwa seseorang harus beriman untuk bisa dianggap memiliki moral dan nilai hidup yang baik. Angka ini terpantau konsisten tinggi dalam lima kali rentetan survei serupa yang diadakan sejak tahun 2007.
Berikut adalah gambaran perbandingan kontras dari beberapa negara sampel yang disurvei oleh Pew Research Center:
| Negara | Menyatakan Tidak Perlu (%) | Menyatakan Harus Beriman (%) |
| Indonesia | 1% | 99% |
| Kenya | 6% | 94% |
| India | 85% | 13% |
| Amerika Serikat | 68% | 31% |
| Spanyol | 84% | 15% |
| Swedia | 89% | 10% |
Hubungan Kuat Antara Tingkat Religiusitas dan Standar Nilai
Pew Research Center menemukan adanya korelasi linear yang sangat kuat (berada di angka indeks 0,82 dari skala 1) antara jumlah orang yang mengaku percaya Tuhan di suatu negara dengan cara pandang mereka terhadap moralitas. Di negara-negara yang persentase orang berimannya tinggi (seperti Indonesia, Kenya, dan India), kecenderungan kolektif untuk mengaitkan etika dengan ketuhanan juga otomatis meningkat.
Hal ini juga berlaku kuat pada skala individu di dalam negara tersebut. Sebagai contoh di Hungaria, dua pertiga (66%) orang yang menganggap agama “sangat penting” dalam hidup mereka setuju bahwa moralitas membutuhkan fondasi iman. Sementara di kalangan warga Hungaria yang menganggap agama kurang penting bagi personalnya, angka persetujuan tersebut merosot tajam hingga tersisa 19% saja.
Pada akhirnya, rilis data global ini membuka mata kita bahwa cara pandang dunia terhadap etika kian beragam dan mengalami pergeseran dinamis di berbagai belahan bumi.
Sementara negara-negara barat kian sekuler dalam melihat kebajikan, masyarakat Indonesia tetap memegang teguh keyakinan budaya dan spiritual bahwa setiap individu harus percaya Tuhan untuk menjadi bermoral demi menjaga keharmonisan tatanan sosial serta kelestarian nilai luhur bangsa.
